"Dari meja tulisnya masing-masing, dimana pun mereka berada, mereka cukup melakukan ziarah dengan sekali klik dan tiba di makam saya, yaitu blog ini" – Mula Harahap

Arti Bahagia part 2

Sesampai di kost, saya sadar bahwa satu kesalahan jika menganggap seri masalah ini. Ini bukan pertandingan yang akan ada siapa menang dan siapa kalah. Tapi ini suatu hubungan 2 insan yg diharapkan akan muncul pemenang dan pemenang alias sama-sama meraih kebahagiaan.

Kuraih HP yg seperti biasa selalu kutinggalkan di kost setiap beraktivitas jogging. Rasa bersalahku makin menjadi tatkala kudapati ada satu SMS lagi yg isinya berharap agar SMS sebelumnya direspon.
Kucoba menetralisir kondisi dengan membalas SMSnya dan meminta maaf, namun dibalas dengan ketus. Oke gak papa, saya bisa memahami rasa ketus itu juga akibat dari perbuatanku juga yang gak merespon SMS-SMS sebelumnya.
Saya coba terus untuk memahami perasaan Adik. Namun semakin keras usahaku, semakin meluas pula masalah merembet kemasa lalu dimana kesalahan-kesalahan musti diurai lagi. Entah naluri atau entah terbawa emosi, ego ini muncul. Ego dimana ketika manusia diposisikan di pihak yg salah maka dia akan mencari persepsi lain setidaknya untuk mngurangi tingkat kesalahannya atau sebagai counter attack.
Alhasil, arus ini membawaku untuk mengorek bahwa selama ini pun saya merasa nggak nyaman dengan setiap pertanyaan singkat macam “Mas?”, “Hun?”, “Beib?” dsb. Awalnya saya enjoy dgn hal tsb karena itu berarti Adik membutuhkan keberadaanku. Sungguh lelaki mana yang nggak merasa melayang ketika dia mnjadi sosok yg diharapkan keberadaannya??.
Namun lama kelamaan, setiap saya respon, baik balesan SMS ataupun telpon selalu yg kudapat adalah minim sharing. Ada apa? Kenapa? Dan jawabannya sama. KANGEN.

Saya pun juga KANGEN, tp sungguh saya berharap komunikasi kita bukan rasa kangen saja tapi ada sesuatu yang bisa kita ceritakan. Tentang perasaannya terhadap hal lain disekitar masing2 dari kita, penilaian terhadap sesuatu yg sedang dihadapi. Bukan monopoli saya yang melulu menceritakan hari ini di kantor ada ini sehingga begini dan menurut saya begini dll. Seharusnya komunikasi bukan monopoli dari kehidupanku saja, setidaknya itu harapanku agar masing-masing dari kita semakin memahami cara pikir dan sikap kita dalam memahami sesuatu. Dan mungkin ungkapan pada Adik yang pernah saya lontarkan bahwa cara sharing Adik lebih deskriptif bukan opini, mungkin itu adalah puncak dan vonis atas apa yang saya harapkan. Tapi saya coba memahami untuk tidak memaksakan sesuatu yang saya harapkan, melainkan lebih memilih bagaimana cara untuk bisa mengeksplore Adik agar bisa lebih berpendapat saja.
Sayangnya yang saya dapati adalah Adik lebih bisa berekspresi ttg sesuatu yg sedang dipikirkan di fesbuk atau twitter, sementara ketika bersamaku yg muncul bukan itu, melainkan ekspresi2 yg seolah mengikatku. Sya tegaskan bhwa tanpa Adik harus mngikat, saya sndiri akan mengikatkan diri pada Adik sama seperti yang terjadi sebelum2nya. Cintaku pada Adik yg menggerakkan ini semua. Tanpa harus dilarang melirik wanita lain, saya pun sudah melarang diri sendiri utk tidak melirik wanita lain. Dan cintaku pada Adik pula yg menggerakkan ini.

Jadi, kesimpulan dari semua ini apa?
ya. saya berharap kita bisa share secara seimbang, agar Adik bisa masuk dan nyaman dalam cara berpikirku. Begitu pula sebaliknya, agar saya bisa menikmati cara berpikir Adik sehingga kelak ketika kita hidup bersama dalam jalinan rumah tangga, bahagia selalu menyertai kita…

Note : mohon maaf jika ada kalimat yg kasar ataupun menyakiti Adik. Gak ada maksud untuk itu. Hanyalah mencoba menulis apa yg selama ini ada di pikiran. Maaf…

Dan terakhir tak lupa saya ungkapkan dari hti yang paling dalam,
I LOVE YOU and I WANNA GROWTH OLD WITH YOU…

With Love,
A.We

Advertisements

Comments are closed.