"Dari meja tulisnya masing-masing, dimana pun mereka berada, mereka cukup melakukan ziarah dengan sekali klik dan tiba di makam saya, yaitu blog ini" – Mula Harahap

Abar

Maaf aku tak pandai katakan “Maaf”. Kamus Ego tak muat kata itu.

Aku gagu katakan maaf, apalagi cinta. Terlalu sakral. Seperti dikutuk langit mendung, hujan badai akan turun kala aku bicara.

Ah, ternyata tak hanya kamu, aku pun tak mampu jujur. Sialan!

Tuhan Maha Tahu, tapi kamu tak perlu. Maka kali ini aku setuju, cara termudah melarikan diri dari amarah adalah diam. Layaknya menimbun kekecewaan, ketika bersuara pasti akan sumbang. Maka kali ini aku setuju, lebih baik diam.

Baju zirah merangsek masuk koper. Dia bilang aku harus pergi, perangi perangai sendiri. Extrovert. Tak terima segala yang tersembunyi.

Aku murid durhaka yang dulu kau ajarkan keterbukaan. Mungkin karena itu kau sembunyi.

Maka kali ini aku tak setuju, karena diam adalah cari aman tapi bukan ketentraman. Diam hanya abar dari pertengkaran yang pasti akan terjadi lagi.

Advertisements

Comments are closed.