"Dari meja tulisnya masing-masing, dimana pun mereka berada, mereka cukup melakukan ziarah dengan sekali klik dan tiba di makam saya, yaitu blog ini" – Mula Harahap

Demikian

Suratmu itu tak kan pernah terkirim, karena kau hanya perlu berbicara pada dirimu sendiri. Kau hanya ejakulasikan otakmu dengan pengalaman yang kau simpan sendiri, tanpa pernah terbagi.

Aku mengenalmu bukan sejak sepenggalah matahari lalu, melainkan sebelum karang terkikis pasang surut air laut karena melepas rindu pada purnama.

Kita tak pernah baca novel yang sama. Kau mencumbu di bawah hujan ketika aku lantang pada remang bulan baru. Entah siapa yang kau cumbu, dan siapa yang mendengar lantangku.

Kita tak pernah dengarkan lagu yang sama. Kau galau dengan kidung kerakyatan, dan aku larut pada ketenangan sonata klasik Vienna.

Kita pun tak pernah punya mimpi yang sama. Aku mau istana, kau mau saung sederhana.

Lalu apa yang pernah mengikat kita?

Retoris.

Toh jawabannya tak lagi ada. Atau aku yang tak peduli kalau itu ada.

Mengikat tembaga yang pernah putus, tak akan semulus saat utuh dulu. Maka biarkan saja teraliri arus yang tak sama. Aku hanya perlu bernapas lega dari pelukmu yang terlalu lama. Dan rasanya kau hanya perlu berbicara pada dirimu sendiri. Demikian.

Advertisements

Tinggalkan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s