"Dari meja tulisnya masing-masing, dimana pun mereka berada, mereka cukup melakukan ziarah dengan sekali klik dan tiba di makam saya, yaitu blog ini" – Mula Harahap

Purnama

Tujuh purnama kamu tak datang. Tujuh purnama saya lekang.

Tak ada yang berubah. Saya masih tak mengerti mengapa kunang-kunang menyinari pantatnya. Mengapa jangkrik lantang di rerimbunan. Mengapa katak mati terlentang. Mengapa kamu di antara mereka.

Purnama purna tugas. Lelah ia menggantung di sana, menanti saya kembali bercinta. Ia kemasi cahayanya bersama riak-riak pasang. Purnama pulang bawa terang.

Purnama pulang, malam berkalang fauna jalang. Layar terkembang. Nelayan ratapi purnama hilang. Ketipung ditabuh seraya senandungkan mantra. Mereka menanti purnama kembali, ikut berdendang heningkan malam. Cakalang turut meratap. Diikutinya prahu nelayan. Lumo induk tak sebesar duka nelayan. Itulah sebab cakalang bernaung.

Mantra habis, purnama tak kunjung datang. Matahari tak sabar jadi pahlawan, muncul seenaknya. Nelayan buang sauh, duka tak mau jauh. Ah, matahari hanya mengulur duka purnama karena kamu tak akan pernah datang.

Lupakan purnama, rasakan matahari. Kunang-kunang sembunyi. Jangkrik sibuk sendiri. Katak membusuk tak tau diri. Kamu mirip mereka sekali.

Advertisements

Tinggalkan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s