"Dari meja tulisnya masing-masing, dimana pun mereka berada, mereka cukup melakukan ziarah dengan sekali klik dan tiba di makam saya, yaitu blog ini" – Mula Harahap

Jenazah Agul

Ketika aku kanak-kanak, ketika percakapan mereka masih bisa ku pahami. Malaikat angkuh dan iblis tulus.

Ketika aku dewasa, kata-kata mereka semakin absurd. Abstrak. Atau aku lupa switching pikiran kanak-kanakku?

Malam semakin larut. Batin semakin berkemelut. Semestinya aku sudah lelap. Namun percakapan malaikat angkuh dan iblis tulus serupa dukun kalap. Mereka tau aku tengah patah hati. Mataku sembab, diary penuh noda dan nada mencaci.  Segenap umpat membusuk di dada. Di saat seperti inilah paru-paruku begitu kotor, lebih kotor dari setan-setan perokok bertalenta kanker. Paru-paruku semakin busuk karna namamu yang sudah mati tak terkubur. Ku biarkan jasadnya hingga busuk itu menyebar. Salahku biarkan malaikat dan iblismu juga di sana. Menjaga namamu hingga langit mau naungi ragamu lagi.

Konspirasi keparat. Mereka membawamu lari dari paru-paruku. Aku memang bisa bernapas lapang, namun aku terlanjur lapar bangkaimu. Jasadmu semakin memuakkan ketika bibir melebar mewujud senyum kala ku mainkan voodoo pria-pria kekar untuk mencumbuku.

Advertisements

Tinggalkan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s